SINGA
HUTAN
Perjalanan begitu singkat ketika aku, Ferly dan
Yihna bersama-sama mengarungi dunia kecil. Ya aku sedang berjelajah bersama dua
sahabatku itu di sebuah hutan. Kita hanya bertiga, cewek lagi. Tapi kita tak
pernah takut untuk menjelajah dunia kecil ini. Dulu aku dan kedua temanku,
Ferly dan Yihna pernah jelajah hutan. Kita hampir taja tak bisa keluar dari
hutan itu, ceritanya begini........
Tanggal 12 April 2005
Ferly menelponku, saat itu aku masih dalam keadaan
setengah sadar dari tidurku. Dia
mengajak aku untuk menemuinya ditaman kota. Saat tiba disana ternyata Ferly
tidak sendirian ia ditemani dengan seseorang yang duduk disampingnya. Ternyata
dia Yihna sahabatku yang cerewet. Memang kami bertiga adalah sahabat baik sejak
kelas VII SMP.
Saat itu langit begitu cerah. Ternyata mereka berdua
mengajak aku pergi kehutan Ramean. Hutan itu tak pernah di jelajahi. Kata
penduduk setempat dalam hutan itu terdapat singa yang berteman dengan hantu. Rumor
itu berawal dari seseorang yang mencari kayu bakar, yang katanya di kejar
seekor singa dan disanpingnya perenpuan yang berambut panjang terbang
disampingnya. Hal itu bukan hanya terjadi pada tukang kayu bakar saja ada seseorang
yang sedang mengejar kelincinya yang masuk pada kehutan itu, dia juga melihatnya.
Mungkin cerita itu yang membuat mereka berdua penasaran untuk masuk kehutan
Ramean. Awalnya aku menolak tapi karena ucapan Ferly, “ Ayolah Mer, ingatlah
cita-cita kita dulu”. Hmm memang cita-cita kita dulu adalah menjelajah hutan.
Kitabertiga memang suka sekali pergi kesuatu tempat yang penuh tantangan.
Keesokan harinya aku dijemput oleh Ferly dan Yihna.
Aku sudah siap dengan tas punggungku tapi kenapa mereka tak membawa tas.” Tas
kita ada di depan gerbang rumahmu”. Akhirnya kita berangkat. Aku minta izin
pada mama, tapi aku meminta izin untuk pergi camping bersama teman-teman
padahal sebenarnya kita ingin pergi ke hutan Ramean. Untung saja mama percaya andai saja mama tau pasti aku sudah tidak
diizinin.
Akhirnya kita sudah sampai, malah kita sudah masuk
dalam hutan. Selama perjalan tak ada apa-apa. Singa yang konon katanya berteman
dengan hantu itu pun tak terlihat ujung hidungnya. Menurutku, kita bertiga
sudah hampir sampai pada jantung hutan. Hari semakin gelap kita bertiga membuat
tenda kecil untuk tempat kita nanti malam.
Malam dengan udara dingin terdengar mengerikan di
telingaku. Pada waktu itu kami bertiga membakar ikan yang kami beli saat
melewati pasar siang tadi. Sampai saat ini tak ada satu pun tanda tentang
adanya singa itu. Aku, Ferly dan Yihna merasa jelajah hutan kali ini kurang
seru tak ada tantangan sam sekali. “Mer, Yih lihat disana ada cahaya”. Ferly
menunjukkan jarinya kesumber cahaya yang ia lihat. Kami bertiga merasa ada yang
aneh dengan keajadian ini. Konon katanya tak ada orang yang berani kehutan ini
tapi kenapa ada sinar ditempat itu. Rasa penasaran itu telah membuat kita
bertekat untuk melihat keadaan disana. Kami melihatnya dari celah semak-semak
yang tumbuh rimbun diantara dua pohon besar.
Ternyata ada sebuah tenda disitu. Bukan tenda kami
tapi tenda milik orang lain.ukurannya lebih besar dari milik kita. Seseorang
keluar dari dalam tenda itu membawa sebuah cangkir dan duduk didepan api
unggun. Dari belakangnya disusul seorang laki-laki berbadan tegap tinggi dan
berkulit hitam. Entahlah sepertinya kami bertiga tidak mengenali
mereka.”Auuu..”, Yihna berteriak karena ada seekor ular di dekatnya. “ Siapa
itu”, dua laki-Laki itu mengetahui keberadaan kita. Kami bertiga berlari tanpa
mnehiraukan ular yang mendesis kearah kita. “ Oyy jangan kabur kalian gadis
bodoh!!!”, dua laki-laki itu mengejar kita.” Awas saja nanti kalau tertangkap
akan kami cincang kalian”. Jantung seakan mau copot. Baru pertama kali ini kami
berlari dengan sangat kencangnya. Malam hari, dingin kami terus berlari
terkadang bersembunyi semak-semak. Kami
bertiga terpisah. Detak jantungku sudah tak karuan lagi. Aku juga tak tau apa
yang dilakukan sahabatku. Apa mereka masih berlari atau bersembunyi dibalik
semak seperti aku saat ini.” Lepasin aku, orang tua tengek!, aku mau pulang”.
Waduh gawat sepertinya itu suara Ferly, iatertanngkap. Aku yang bersembunyi dibalik
semak berdo’a kepada Tuhan semoga saja mereka tidak menemukanku. “ Ahhh,,aku mau dibawa kemana”. Itu seperti
suara Yihna. Gawat Ferly dan Yihna sudah tertangkap, kini tinggal aku sendiri,
para penculik itu pasti akan mencariku lagi.Aku tak berani keluar dari semak.
Angin malam yang begitu dingin tidak aku hiraukan.
Mataku kini kembali terbuka ternyata tertidur
bersandar pada akar pohon yang besar. Tetap di antara semak belukar, untunglah
mereka tak menemukanku. Aku beranikan diriku untuk keluar dari semak dan menuju
tenda. Tenda kita masih utuh. Sepertinya komplotan itu tidak mengetahui
keberadaan tendaku. Yihna, Ferly bagaiman dengan mereka?, apa aku harus
meninggalkan mereka dalam kesulitan ini? Kalaupun ia apakah ini yang dinamakan
sahabat?. Huh aku menhembuskan nafas dan bertekat untuk menolong mereka
walaupun pada akhirnya aku juga akan celaka.
Terdengar dering hp dari tasku. Aku baru ingat kalau
aku membawa hp untunglah...
Mama ku menelpon. Aku menceritakan padanya dan meminta maaf karena telah membohonginya kemaren pagi. Aku bilang pada mama bahwa aku masih akan menolong Ferly dan Yehni yang tertangkap dua laki-laki itu.
Mama ku menelpon. Aku menceritakan padanya dan meminta maaf karena telah membohonginya kemaren pagi. Aku bilang pada mama bahwa aku masih akan menolong Ferly dan Yehni yang tertangkap dua laki-laki itu.
Dengan keyakinan yang mantap, Ku langkahkan kakiku
menuju tempat persembunyian kita tadi malam. Yihna dan Ferly diikat di sebuah
pohon. Kaki mereka juga diikat. Tapi untung saja mulut mereka masih tak ditutup
juga. “Fer,,Ferly”, terlihat cahaya senang dalam mata Ferly saat melihatku. “
Bantu kita melepas ikatan ini”. Aku mengisyaratkan pada mereka berdua agar
tidak berisik.
Syukur ikatan itu telah terlepas. Tapi,,, “ Mau
kemana kalian”, kita ketahuan oleh para komplotan mereka. Kini tampilan mereka
lebih menyeramkan, satu memegang pistol dan satunya memegang kayu besar. Tubuh
kita lunglai bagai tak bertulang. Tamat riwayat hidup kita hari ini. Mama
maafin Mery sudah berbohong pada mama. Kini Mery takkan bisa bertemu mama lagi.
“ Duaaarrrr,,”, terdengar letusan pistol. Kami
menutup mata dan kedua teliga denga tangan. Aku tak terkena pistol itu, apa
mungkin Ferly dan Yihna yang tertembak. Oh tidak!!!!. Saat aku membuka mataku
disekelilingku sudah ada dua polisi yang meringkuk dua orang tadi. Disampingku
Ferly dan Yihna masih dalam keadaan menutup mata mereka. “ Ferli,Yihna kita
selamat”. Mereka membuka matanya dan kita berpelukan mengucap syukur.” Mama..”,
aku melihat mama berada disampingku, papa dan juga kakakku Arfian. Aku mencium
pipi mereka dan mengucap terima kasih pada mereka. Disini juga ada mama Yihna
dan Ferly. Pak polisi memborgol kedua tangan orang jahat itu.” Terimakasih
anak-anak kalian telah membantu kami menemukan penjahat yang selama ini kami
cari-cari”. Ternyata dua orang adalah penjahat
yang kabur dari penjara. Untunglah kita bertiga tidak apa-apa.
Senyuman dan ucapan rasa syukur karena singa yang
selama ini menghantui desa sekitar huta Ramean ternyata hanya ulah dua orang
penjahat itu. Penduduk desa Ramean mengucapkan termakasih pada kami. Kami
bertiga di undang oleh Pak Lurah untuk makan malam nanti di rumahnya.
Akhirnya selasai juga ceritanya. Nah Friends
pengalam itu indah sekali. Sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan PENGALAMAN
ADALAH GURU YANG PALING BIJAK. Yah pengalaman tadi mengajakanr kita bertiga agar
saling membatu satu sama lain. Dan juga mengajarkan kita agar tidak berbohong
apalagi pada orang tua.
By:
Ulya Nurir R.
